Suatu upaya pelestarian warisan seni budaya yang bernilai selalu mengandung manfaat yang sangat berarti, upaya semacam ini setidak-tidaknya akan menjalin hubungan sejarah budaya masa lalu dengan perkembangannya dewasa ini dan lebih baik lagi upaya itu mampu memelihara bahkan mengobarkan api semangat yang semula mendasari pertumbuhan dan perkembangan seni budaya tersebut.
Pencak Silat Tradisional Pusaka Sakti Mataram diciptakan oleh Ki Poleng Sudamala, memiliki akar, visi dan filosofi yang sama dengan Joged Mataram karena beliau selalu mengamati orang tuanya saat sedang berlatih maupun melatih murid-muridnya menari. Dalam berlatih seorang pesilat sangat membutuhkan konsentrasi yang bulat (sewiji), artinya seluruh sanubarinya dipusatkan pada satu tekad untuk bersilat sebaik mungkin dalam batas kemampuannya, tetapi dengan menggunakan segala potensi yang dimilikinya. Kemudian dinamik dalam jiwanya disalurkan keplastik geraknya (greged) dengan pengendalian yang sempurna, agar dapat menghindari kekasaran. Selanjutnya ia harus percaya pada kemampuannya sendiri (sengguh), tetapi harus dikekang agar jangan sampai menjurus pada kesombongan dan dalam keadaan apapun ia tidak akan meninggalkan kewajibannya sebagai pesilat yaitu pantang mundur (ora mingkuh).
Ki Poleng Sudamala berguru pertama kali kepada Guru Tommy Benyamin yang baru saja menetap di Jogja. Setelah itu Ki Poleng Sudamala juga berguru kepada Romo Suko Martoyo yang mengajarkan teknik pencak silat tradisional gaya mataraman, tenaga dasar, sopan santun, kerendahan hati dan budi pekerti luhur. Beliau yang merubah pandangan dan sikap hidup Ki Poleng Sudamala untuk "Urip
prasaja tresna mring pepadha". Romo Suko Martoyo-lah yang mempertemukan Ki Poleng Sudamala dan Guru Daniel Prasetya di Jawa Timur, Jawa Tengah dan P.Bali. Ki Poleng juga mendapat latihan dan bimbingan dari Mbah Doelwahab ( gabungan aliran pencak silat mataram dan kuntao ), guru silat yang tinggal bersebelahan rumah dengan Ki Poleng Sudamala. Banyak guru kasepuhan dari Jawa, Bali, Riau, Kalimantan, Banten, Timor Timur yang mewariskan ilmunya kepada Ki Poleng Sudamala.
Meskipun guru Daniel merupakan wijiling andana warih/keturunan orang luhur dan Ki Poleng tedhaking amarga tapa/keturunan keluarga yang menyukai laku prihatin keduanya masih berhubungan sebagai satu saudara. Ki Poleng Sudamala melihat saudaranya
Guru Daniel Prasetya sebagai pribadi yang selalu mengajarkan sifat seperti srengenge pine, banyu kinum, bumi pinendhem atau setiap muridnya harus memiliki sifat seperti ksatria yang selalu melihat sesuatu secara jelas dan seterang mungkin seperti matahari, memiliki keputusan yang teguh seperti air jernih didalam tempat tanpa bergejolak, menjunjung tinggi sopan santun, adat istiadat, kerendahan hati serta tak semena-mena terhadap orang lain.
PSM. Lakutama didirikan secara resmi oleh Ki Poleng Sudamala di Yogyakarta, pada tanggal 05 Desember 2004, dengan berasaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar l945. Maksud didirikannya Paguyuban ini adalah terciptanya Sumber Daya Manusia, yang mampu memberikan pencerahan dan menjadi suri tauladan serta panutan bagi sesama, bertujuan membina dan mengembangkan sikap ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sikap mental, nilai-nilai dan tingkah laku yang baik, serta membina dan mengembangkan aspek gerak badan, kesehatan dan pengobatan. Sedangkan tugas pokok Paguyuban adalah:
- Mengusahakan agar Paguyuban Pusaka Sakti Mataram Lakutama beserta nilai-nilainya dapat menjadi sarana untuk membangun manusia seutuhnya yang berketahanan jasmani dan rohani, mampu membangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan Bangsa dan Negara.
- Memantau, menampung, menyalurkan serta memperjuangkan terwujudnya aspirasi seluruh anggota.
- Menggali, melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur kebudayaan.
Kemudian Ki Poleng Sudamala bersama seorang muridnya Ir.M.Krista Hendriyanto (masih keturunan pejuang kemerdekaan RM. Ali Basah Sentot Prawirodirjo), bersama-sama mendirikan Pencak Silat Tradisional Pusaka Sakti Mataram Lakutama. Pada awal didirikan konsepnya masih sederhana dan sama sekali tidak terbayangkan akan menjadi sebuah gagasan besar, kompleks dan melibatkan orang dalam jumlah besar dengan berbagai kebutuhan dan semangat pelayanan kepada masyarakat tanpa membeda-bedakan Agama, Suku, Golongan dan Ras, karena pada dasarnya manusia diciptakan Tuhan sama. Akhirnya PSM.Lakutama mencoba menyumbangkan kemampuan yang di dalami kepada masyarakat luas dengan didirikannya :
- Klinik Pengobatan PSM Lakutama yang di percayakan kepada Ki Potro Keling (cucu dari Eyang Kaki Olah Pati), Hilaria Donata.SE (Suku Dayak Kanayatn Kalimantan Timur), Lie Sian Liang/Elly Erlia (ahli tata kecantikan dan kulit).
Dengan sesanti “Urip prasaja tresna mring pepadha
(Hidup sederhana, selalu mengasihi sesama).
- Kelompok Meditasi Daya Batin yang di percayakan kepada Uji Prasetyo S.si .
Dengan sesanti
"Bakal bisa tumeka ing Gusti, amung yen wis mangerteni sejatine diri
"(Akan bisa sampai di hadapan Tuhan, apabila telah memahami sepenuhnya diri sejati).
Akhirnya bisa atau kurang bisa bersilat bukanlah tujuan yang utama, namun adalah baik jika kita dapat menyebarkan api cinta kasih kepada sesama, karena tanpa cinta kasih hubungan manusia adalah hubungan yang penuh pamrih, kering dan saling tindas menindas. |